Minggu, 27 Oktober 2013

Lingkungan Utama Anak Dalam Keluarga : Balita Jangan Dibiarkan Lama Menonton TV





     Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama bagi anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang utama bagi anak, karen sebagian besar kehidupan anak ada di dalam lingkungan keluarga. Sehingga pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah semata. Tak heran bila keluarga adalah lembaga pendidikan yang tertua, kerana sejak lahir anak pertama kali mengetahui dan menganal lingkungan keluarga

     Demikian disampaikan Lydia Freyani Hawadi yang lebih akrab dipanggil Reni Akbar, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI) yang juga Psikolog UI. Reni menyebut, fungsi keluarga damlam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah, juga sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak, menjamin kehidupan emosional anak menanamkan dasar pendidikan sosial, meletakan dasar pendidikan agama.
     Orang tua bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak, memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagu kehidupan kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri. “Tidak kalah penting, orangtua wajib menjaga kesehatan anak, sehingga isa dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh, memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama yang sesuai,” tambah Reni
Lama Menonton TV
     Sementara saat di rumah, banyak anak yang menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Menurut Prof Lina Pagani dari University of Montreal, anak balita yang terlalu lama menonton televisi, dapat tertinggal dalam kemampuan berbicara dan berhitung.
     Penelitian yang telah dilakukan oleh University of Montreal, merupakan studi pertama yang menemukan hubungan antara terlalu banyak menonton televisi dan risiko bayi yang miskin keterampilan motorik serta bermasalah dalam psikososial. Profesor Linda Pagani yang memimpin penelitian itu mengingatkan orangtua, agar membatasi balita menonton televisi tidak lebih dari dua jam TV sehari. Dikemukakan masalah dalam psikososial serta kurangnya kemampuan motorik gara gara terlalu banyak menonton televisi, bisa menjadikan anak di bully oleh teman temannya. “Temuanini menunjukan perlunya kesadaran orangtua dalam membatasi waktu menonton televisi baggi balita berusia dua tahunyaitu tidak lebih dari dua jam sehari, suatu rekomendasi Asosiasi Pediatrik Amerika Serikat,” kata Pagani. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 991 anak perempuan dan 1.006 anak laki laki di Quebec, semuanya berusia 29 bulan.
Bekerja Sama Dengan Sekolah
     Menteri Negara Pemberdayaan Permpuan dan Perlindungan Anak (Menag PP dan PA), Lidya Amalia Sari Gumelar mengatakan, Undang Undang (UU) Perlindungan anak dan Konversi anak ialah anak berusia dibawah 18 tahun. Dalam sensus penduduk BPS 2010 terdapat 34,6 persen dari jumlah penduduk indonesia, sekitar 80 juta anak indonesia.
     Untuk itu kewajuban bersama dalam menyiapkan hak anak untuk menciptakan masyarakat cerdas. “Peran keluarga dan kelompok terkecil sangan berperan penting dalam mendidik anak usia dini. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar dalam membentuk karakter dan kualitas anak,” kata Lidya
     Lidya menyebut, orantua harus berkerjasama dengan sekolah. Sikap anak terhadap sekolah sangat dipengaruhi  oleh sikap orangtua terhadap sekolah. Sehingga, sangat dibutuhkan kepercayaan orangtua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama diruang sekolah.
Sumber : Kedaulatan Rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar