Hampir semua media, memuat berita peristiwa dimana Jokowi
(Gubernur DKI Jakarta), membacakan Dedication of Life Bung Karno. Adapun naskah
Dedication of Life yang dimaksud adalah: Saya adalah manusia biasasaya tidak
luput dari kekuranan dan kesalahan. Hanya kebahagianku ialah dalam mengabdi
kepada Tuhan, kepada Tanah Air , kepada Bangsa. Itulah “Dedication of Life”ku. Jiwa pengabdian
inilah yang menjadi falsalah hidupku, dan menghikmati serta menjadi beka-hidup
dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa. Akan
tetapi dengan pengabdian ini, saya merasa bahagia dan bermanfaat (Soekarno,
10-09-1966).
Megawati mengatakan bahwa Jokowi
mendapatkan getaran Bung Karno. Apa makna ungkapan tersebut? Kita menduga,
pernyataan tersebut berkait pada apa yang disebut sebagai regenerasi cita-cita,
prinsip dan orientasi hidup. Regenerasi kepemimpinan sebagaimana yang menjadi
perbincangan public, sesungguhnya merupakan unsur yang tidak terlampau pentin ,
meski hangat sebagai isue politik. Pesan apa yang tersembunyi dari peristiwa
tersebut? Yakni manusia (pemimpin) pada dirinya memikul suatu tanggung jawab
(kewajiban). Dengan demikian, tugas seorang pemimping adalah meletakan
kepentingan pribadinya jauh berada di bawah kepentingan rakyat, bangsa dan
negara. Sikap ini, diwujudkan dengan : menjalankan apa yang menjadi kewajiban
sebagaimana adanya.
Jokowi, sebagaimana yang direkam media
memperlihatkan dengan jelas suatu kualias yang wajar dari seorang pemimpin:
pengabdian seperti yang menjadi intisari Dedication of Life. Mereka yang
terbiasa pada prinsip ini akan mengatakan, sesungguhnya tiada yang istimewa
dari jokowi, sebab yang dijalankan adalah tindakan yang memang sudah seharusnya
dijalankan. Seorang pemimpin dipilih, diberi mandat dan diberi berbagai kewenangan,
bukan untuk keperluan pribadinya, dan bukan untuk keperluan yang lain kecuali
melayani rakyat. Di sini berlaku rumus bahwa tujuann dari suatu hal hanya akan
dapat dicapai jika gal dimaksud dijalankan sesuai dengan maksud keberadaan nya.
Bila
rumus tersebut kita pakai untuk membaca negara, maka rumus tersebut akan
berbunyi, tujuan negara hanya akan dicapai manakala penyelenggaraan kekuasaan
negara sepenuhnya dijalankan sesuai dengan maksdid diadakannya pemerintahan
negara.Oleh sebab itulah ketika ada seorang pemimpin menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang
menjadi tugasnya seharusnya kita melihat hal tersebut sebagai hal yang biasa,
atau hal yang wajar. Namun mengapa kita melihat Jokowi sebagai pribadi yang
sangat istimewa?
Kita bisa pulang pada kenyataan hidup,
atau pergaulan hidup kita selama ini. Kita dapat memeriksa dengan seksama
bagaimana praktek penyelenggaraan kekuasaan negara. Banyaknya kasus kasus yang
menimpa pejabat public, memperlihatkan dengan jelas bahwa kekuasaan negara
dijalankan tidak sebagaimana maksud keberadaannya. Hal yang tentu patut menjadi
pertanyaan kita bersama mengapa public tidak menganggap bahwa keadaan menyimpang
dimana kekuasaan negara tidak dijalankan sebagaimana tidak dilihat dalam
kerangka kenegaraan, dan lebih dilihat sebagai suatu bentuk penyimpangan moral?
Akibat dari cara cara menilai ini adalahbahwa keadaan tersebut (keadaan tidak
dijalankannya kekuasaan keberadaannya), cenderung dimaklumi dan dianggap wajar,
dan bukan dianggap sebagai suatu persoalan yang sangat mendasar. Bahkan dapat
dikatakan bahwa public telah membentuk suatu ukuran dan cara menilai tersendiri
yang relatif berbeda dengan kaidah kenegaraan.
Oleh sebab itulah, ketika ada sosok seperti
Jokowi, yakni sosok yang dengan ketulusan (dengan jiwa pengabdian) berusaha
dijalankannya kekuasaan negara sebagaimana maksud keberadaannya, public mudah
terpesona, dan menganggap hal tersbut bukan sebagai hal yang wajar, akan tetapi
dilihat sebagai hal yang istimewa. Pada titik ilmiah kita membutuhkan suatu
reaksi nasional. Disatu sisi kita sengan dan menjadi mendapati kenyataan bahwa keadaan sekarang
ini sangat miskin dan tindakan atau perilaku penyelenggara kekuasaan negara
yang menjalankan tugas tugasnya sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya. Kita ssangat
berharap kampus ambil bagian dalam pergerakan ini, menjadi pelopor dengan riset
yang mendalam, agar kita sebagai bangsa bergerak sesuai dengan maksud
kemerdekaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar