Sabtu, 19 Oktober 2013

Jokowi Soekarno dan Kita : Arti Sebenarnya



     Hampir semua media,  memuat berita peristiwa dimana Jokowi (Gubernur DKI Jakarta), membacakan Dedication of Life Bung Karno. Adapun naskah Dedication of Life yang dimaksud adalah: Saya adalah manusia biasasaya tidak luput dari kekuranan dan kesalahan. Hanya kebahagianku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air , kepada Bangsa. Itulah  “Dedication of Life”ku. Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsalah hidupku, dan menghikmati serta menjadi beka-hidup dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa. Akan tetapi dengan pengabdian ini, saya merasa bahagia dan bermanfaat (Soekarno, 10-09-1966).
     Megawati mengatakan bahwa Jokowi mendapatkan getaran Bung Karno. Apa makna ungkapan tersebut? Kita menduga, pernyataan tersebut berkait pada apa yang disebut sebagai regenerasi cita-cita, prinsip dan orientasi hidup. Regenerasi kepemimpinan sebagaimana yang menjadi perbincangan public, sesungguhnya merupakan unsur yang tidak terlampau pentin , meski hangat sebagai isue politik. Pesan apa yang tersembunyi dari peristiwa tersebut? Yakni manusia (pemimpin) pada dirinya memikul suatu tanggung jawab (kewajiban). Dengan demikian, tugas seorang pemimping adalah meletakan kepentingan pribadinya jauh berada di bawah kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Sikap ini, diwujudkan dengan : menjalankan apa yang menjadi kewajiban sebagaimana adanya.
     Jokowi, sebagaimana yang direkam media memperlihatkan dengan jelas suatu kualias yang wajar dari seorang pemimpin: pengabdian seperti yang menjadi intisari Dedication of Life. Mereka yang terbiasa pada prinsip ini akan mengatakan, sesungguhnya tiada yang istimewa dari jokowi, sebab yang dijalankan adalah tindakan yang memang sudah seharusnya dijalankan. Seorang pemimpin dipilih, diberi mandat dan diberi berbagai kewenangan, bukan untuk keperluan pribadinya, dan bukan untuk keperluan yang lain kecuali melayani rakyat. Di sini berlaku rumus bahwa tujuann dari suatu hal hanya akan dapat dicapai jika gal dimaksud dijalankan sesuai dengan maksud keberadaan nya.
     Bila rumus tersebut kita pakai untuk membaca negara, maka rumus tersebut akan berbunyi, tujuan negara hanya akan dicapai manakala penyelenggaraan kekuasaan negara sepenuhnya dijalankan sesuai dengan maksdid diadakannya pemerintahan negara.Oleh sebab itulah ketika ada seorang pemimpin  menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya seharusnya kita melihat hal tersebut sebagai hal yang biasa, atau hal yang wajar. Namun mengapa kita melihat Jokowi sebagai pribadi yang sangat istimewa?
     Kita bisa pulang pada kenyataan hidup, atau pergaulan hidup kita selama ini. Kita dapat memeriksa dengan seksama bagaimana praktek penyelenggaraan kekuasaan negara. Banyaknya kasus kasus yang menimpa pejabat public, memperlihatkan dengan jelas bahwa kekuasaan negara dijalankan tidak sebagaimana maksud keberadaannya. Hal yang tentu patut menjadi pertanyaan kita bersama mengapa public tidak menganggap bahwa keadaan menyimpang dimana kekuasaan negara tidak dijalankan sebagaimana tidak dilihat dalam kerangka kenegaraan, dan lebih dilihat sebagai suatu bentuk penyimpangan moral? Akibat dari cara cara menilai ini adalahbahwa keadaan tersebut (keadaan tidak dijalankannya kekuasaan keberadaannya), cenderung dimaklumi dan dianggap wajar, dan bukan dianggap sebagai suatu persoalan yang sangat mendasar. Bahkan dapat dikatakan bahwa public telah membentuk suatu ukuran dan cara menilai tersendiri yang relatif berbeda dengan kaidah kenegaraan.
     Oleh sebab itulah, ketika ada sosok seperti Jokowi, yakni sosok yang dengan ketulusan (dengan jiwa pengabdian) berusaha dijalankannya kekuasaan negara sebagaimana maksud keberadaannya, public mudah terpesona, dan menganggap hal tersbut bukan sebagai hal yang wajar, akan tetapi dilihat sebagai hal yang istimewa. Pada titik ilmiah kita membutuhkan suatu reaksi nasional. Disatu sisi kita sengan dan menjadi  mendapati kenyataan bahwa keadaan sekarang ini sangat miskin dan tindakan atau perilaku penyelenggara kekuasaan negara yang menjalankan tugas tugasnya sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya. Kita ssangat berharap kampus ambil bagian dalam pergerakan ini, menjadi pelopor dengan riset yang mendalam, agar kita sebagai bangsa bergerak sesuai dengan maksud kemerdekaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar